Wednesday, 12 September 2012

change cakni

Change ?? (SS)

oleh RaincakkaLangit PelangiAgnindita pada 8 September 2012 pukul 17:53 ·

Haiii, ini baru kelar tadi loh. Hehe. sorry yah kalau gaje. Ini belum gue baca ulang sih, tapi yah gpp deh yah buat selingan doang :p

----

Gadis cantik, manis, imut, pintar dan always up to date itu menatap lekat cowok di hadapannya dengan mata menyipit. Dengan geram ia menggigit permen lolipopnya saat mendengarkan curhatan cowok  yang saat ini duduk dengan kepala menunduk di hadapannya. Bukannya dia bosan, atau malas mendengar keluhan dan curahan hati sahabatnya itu, tapi justru lebih karena dia kesal, dan jengkel melihat sikap sahabatnya yang menurutnya terlalu loyo.

            Gadiss dengan dandan bak princess disney itu bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri cowok yang masih duduk di kursi sofa sambil menunduk.

            “Errr. You know? Gue pengen banget rasanya ngebunuh lo,” seru gadis itu tepat di telinga sang sahabat. Dengan cepat cowok itu mengangkat wajahnya dan menatap gadis cantik di hadapannya itu dengan mata membulat. Kaget lebih tepatnya. “Lo itu cowok bukan sih? Ini udah perkara ke 1999 kali dalam sejarah hidup lo, lo di putusin cewek dengan cara mengenaskan seperti itu,” tanya dan ucap gadis itu dan kini berdiri bersedekap di hadapan sahabatnya. Cowok itu kembali menunduk, sambil membenarkan duduk kacamatanya dan dengan takut-takut kembali menatap gadis manis di hadapannya itu.

            “Agniii, jangan marah-marah lagi dong,” cowok itu bersuara, sontak membuat si gadis super model itu mendelik lebar. Ia menggeram pelan. Demi tuhan kenapa sih dia bisa punya sahabat seperti ini? cowok kok manjanya gak ketulungan banget. Udah gitu, iuuuh. Agni juga gak tau deh dia kesambet setan apa sampai betah temenan bertahun-tahun sama cowok ini, padahal temen-temen gaul Agni udah pada protes dan ngelarang Agni deket-deket sama sahabatnya itu. tapi, karena pada dasarnya Agni dan cowok itu udah sahabatan sedari mereka balita, gak tau kenapa Agni sayang banget sama si anak Mami yang gaya pakaian dan model  rambutnya yang gak banget itu. Agni gak suka kalau dia di sakiti atau pun di manfaati. Sekuat tenaga dan sebisa mungkin, kalau sahabatnya itu mulai kena masalah, Agni pasti sedia siaga selama 24 jam untuk membantu.

            “Errrrh,” Agni mengeram kesal sambil menghentakkan kakinya di lantai dan dengan kasar menghempaskan tubuhnya di sofa. Sekilas ia melirik sahabatnya itu yang kini sudah kembali menunduk.

            Agni menggembungkan pipinya. Takut-takut cowok itu menatap Agni –lagi- dan ia sedikit tersenyum melihat ekspresi menggemaskan Agni saat itu. gak tau kenapa, Agni selalu sukses membuat perasaannya mendadak tenang.

            “Okay! Lo ikut gue sekarang!” seru Agni kemudian dan dengan sigap menarik lengan cowok itu.

            “Ma –mau kemana?” tanyanya bingung. Agni tak menggubris dan dengan langkah cepat langsung saja mendorong tubuh sahabatnya itu masuk ke dalam mobil.

            ---

“Gue mau kalian make over dia total. Gue mau dia kelihatan cakeeeep banget. Trus satu lagi, kalian harus cari style yang oke buat dia dan jangan sampai ke lihatan tua atau pun ketinggalan jaman. Gue mau yang casucal, but, tetep punya daya tarik. Tonjolin image 19-nya dia. Okey!”

            “SIAP!”

            Agni tersenyum puas, sambil melipat tangannya di depan dada dan menatap sahabat terbaiknya yang duduk di depan cermin besar dengan pandangan berbinar. Saatnya perubahan. Dan dia memang butuh itu.

            “Agniii,”

            “Cakka, sebaiknya lo duduk yang tenang dan biarkan mereka mereka ini memperbaiki penampilan lo. Lo tenang aja deh, selesai ini, lo bisa ngebales semua cewek-cewek itu. percaya sama gue,” terang Agni sambil menepuk pelan pundak Cakka. Cakka terlihat ragu. Di tatapnya wajah berbinar Agni melalu cermin lekat.

            “Huhhh,” Cakka menghela napas berat. Okay. Karena Agni yang minta, akhirnya Cakka pun Cuma bisa pasrah.

            “Kalau gitu gue juga mau sekalian nyalon,” seru Agni kemudian sambil mengibaskan rambut panjangnya dan berjalan ke arah kasir. “Gue pengen ganti cat kuku dong. bosen kuning mulu. Kira-kira buat bulan ini kerennya warna apa ya?”

            ---
Agni meniup-niup kukunya yang sudah berganti warna dari kuning menjadi hijau. Gilaaa, dia udah selesai pedimedi(?) terus sampai creambath segala tapi si Cakka belum juga selesai-selesai. Dan Agni baru tau, seberapa bosann para mantannya yang selama ini selalu setia menungguinya nyalon.

            “Ciiiin!” suara cempreng seorang pegawai salon mengejutkan Agni. beberapa detik lalu Agni nyaris menutup kelopak matanya sangkin ngatuknya. Agni menoleh ke arah si pegawai cowok yang begitu gumalai. Pegawai yang Agni kenal dengan nama Delan itu tersenyum sumringah ke arahnya.

            “Temen gue udah selesai?” tanya Agni dan dengan malas bergerak-gerak tak menentu di sofa. Hoaaam. Beneran berat banget matanya.

            Delan semakin sumringah dan mengangguk penuh semangat. Kemudian ia berjalan mundur dan menarik tirai di belakangnya. Agni memasang mata lebar-lebar.

            “Taraaaa!” seru Delan. Dalam hitungan detik kedua mata Agni nyaris saja keluar. Matanya mengedip-ngedip cepat, tak percaya melihat perubahan drastis Cakka saat ini. Agni bangkit dari duduknya dengan gerakkan seperti zombi dan melangkah mendekati Cakka. ia menepuk pelan pundak Cakka dan memutari tubuh Cakka serta mengamatinya dari ujung kaki sampai ujung kepala secara bergantian.

            Tanpa sadar sedari tadi Agni menahan napasnya. Sumpah Agni nyaris pingsan. Dia gak pernah tau kalau Cakka selama ini menyembunyikan ketampanannya dimana sih? Dengan sukar Agni meneguk ludahnya. Cakka benar-benar jauh berbeda. Rambut lepeknya kini sudah bergaya spike. Kacamata tebalnya sudah berganti lensa kontak. Kemeja-kemeja jadul dan celana gispernya kini sudah berganti kaos, jaket kulit hijau dan celana jeans. Tubuh Cakka kini terlihat sempurna.

            “Ag, aku…. Aku risih,”

            Imajinasi Agni mendadak buyar. Ekspresi kagumnya tadi menghilang seketika dan kembali bersidekap di hadapan Cakka, menatap sahabatnya itu tepat di manik mati.

            “Lo ini cowok paling aneh yang gue kenal di muka bumi tau gak. Huhhh. Lo tau gak sih, lo itu ganteng banget. Kalau gak ingat lo itu sahabat gue, gue pasti udah tarik lo, trus gue ciumin lo sampai kehabisan napas,” ucap Agni santai. Ekspresi dan nada suaranya terdengar begitu tenang. Sementara Cakka, ia cengo. jantungnya mendadak berdetak 10 kali lebih kencang saat  mendengar kalimatAgni barusan. Ya, Cakka tau gimana sikap sahabatnya itu, tapi  Cakka yakin, Agni gak akan mungkin  macam-macam dengan temannya sendiri. Dan ini, kalimat pujian pertama yang ia dengar dari Agni sepanjang mereka bersahabat.

            “Hahahaha. Eke juga mau boook, nyiumin dia sampai jontorrrr,” Delan bersuara. Agni terkikik kecil, sementara Cakka mulai tampak bergidik ngeri. Cepat-cepat ia menempel di belakang Agni dan meremas ujung kemeja Agni. tuh, sifatnya belum juga berubah.

            “Okey deh. Terims buat service kalian. Gue puas. Dan hasilnya benar-benar menakjubkan,” ucap Agni sebelum ia beranjak. Delan pun tersenyum bangga dan mengangguk menanggapi.

            “Sama-sama, ciiin. Hati-hati di jalan. Sering-sering mampir,” seru Delan. Agni pun tersenyum manis dan melambaikan tangan kanannya ke arah Delan dan beberapa pegawai lainnya sebelum ia benae-benar menghilang dan berbelok keluar salon.

            ---
Agni menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit-langit kamarnya dengan dahi mengerut. Heran. Dia benar-benar gak habis fikir dan gak pernah sadar kalau Cakka bisa secakep itu. dan malah, tingkat kecakepannya jauh di atas mantan-mantan Agni. kalau dari dulu Cakka berpenampilan seperti ini, Agni yakin, gak bakal ada seorang cewek pun yang akan rela ngelepasin dia.

            Dengan sigap Agni bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju meja belajar dan menatap sebuah figura di sana. Mendadak Agni merasa takut. Gak tau kenapa, dia berfikir kalau setelah ini Cakka akan berubah padanya.

            “Huhhh. Mungkin ini memang saatnya lo jalan sendiri. Tanpa gue,” ucap Agni sembari mengelus pelan poto Cakka yang tengah tersenyum manis.

            ---
“Agni belum datang ya, Ma?” tanya Cakka sambil sibuk mengunyah sarapan paginya.

            “Tadi Agni udah nelpon Mama. Katanya hari ini dia gak bisa jemput kamu,” jawab sang Mama, menatap sejenak wajah Cakka dan meneguk minumannya.

       
     “Loh? Kok gitu. Terus, Cakka perginya sama siapa dong?” tanya Cakka panik. Biasanya sih kalau ke kampus pasti Agni yang jemput, trus dari sini baru Cakka yang bawa mobil sampai tempat tujuan.

            Sang Mama tersenyum geli melihat tampang Cakka. wajahnya yang kalau dulu terlihat lucu kini semakin menggemaskan. Sang Mama baru sadar juga, kalau buah hatinya itu kalau di dandani hasilnya benar-benar tampan.

            “Katanya Agni, kamu kan bisa bawa mobil, jadi sebaiknya kamu naik mobil sendiri aja ke kampusnya,” terang sang Mama.

            “Tapi Ma…” Cakka tampak ragu.

            “Sudah, jangan pakek tapi-tapian. Kamu sudah mau telat. Mending sekarang kamu berangkat. Ini kunci mobilnya,” ucap sang Mama dan menyodorkan sebuah kunci ke arah Cakka. Cakka menatap ragu benda perak di hadapannya itu sejenak, kemudian dengan sigap ia pun menyambarnya dan berjalan menuju garasi.

            ---
“Jadiii, lo gak bakal jadi babysitternya si Cakka lagi dong, Ag?” tanya Ify sambil melumat snacknya dan menatap Agni lekat.

            Agni mengangguk. ia menghentikan langkahnya dan menyandarkan punggung di salah satu tiang penyangga koridor.

            “Dan seharunya muka lo itu senang, bukannya kusut kayak gini,” Ray bersuara. Cowok dengan rambut gondrong itu melingkarkan tangannya di leher Ify dan ikut menatap wajah Agni. Ify mengangguk membenarkan ucapan Ray barusan.

            “Dia itu sahabat gue. Gue sama dia besar sama-sama. So, wajar dong gue kalau bakal ngerasain kehilangan,” jelas Agni berusaha terlihat setenang mungkin. Ray dan Ify tampak saling melirik, kemudian keduanya pun bergidik bersamaan.

            “Yakin Cuma karena alasan itu?” tanya Ify lagi. Agni tampak ragu. Ia seakan menimbang, kemudian mengangguk mantap.

            ---

Agni, Ray dan Ify kembali menghentikan langkah mereka saat melewati parkiran. Mata Agni menyipit saat melihat mobil sport hitam berhenti di samping mobil sport putih susunya. Ia tersenyum tipis.

            “Agni, itu Cakka?” Ify memekik kaget. gerakkan mengunyahnya menjadi slowmotion. Tangan Ray yang tadi masih setia melingkar di leher gadisnya itu pun perlahan mengurai, wajahnya pun terlihat sama kaget dengan Ify.

            Agni mengurungkan langkahnya dan juga ikut menatap ke arah Cakka. Pagi ini Cakka jauh lebih keren dari semalam, dengan kaos putih dan jaket bermotif bola-bola basket. Rambutnya ia tata sedikit berantakkan. Dan Agni sudah dapat memastikan, semua mata saat ini pasti sudah menatap Cakka nyaris tak berkedip.

            “Kok kamu gak jemput aku sih?” pertanyaan itu langsung Cakka lontarkan saat ia sudah berdiri di hadapan Agni. seperti biasa, Agni berusaha terlihat cuek. Ia dengan cepat memutar tubuhnya dan mulai berjalan menelusuri koridor. Di ikuti Cakka di samping kirinya dan juga Ray serta Ify yang saat ini berjalan lambat di belakang mereka masih dengan menatap Cakka tak berkedip.

            “Lo harus belajar jalan tanpa gue,” jawab Agni santai.

            “Kok gitu?” Cakka mulai memasang wajah paling memelasnya, yang jujur kalau dulu Agni pasti udah langsung pengen nendang Cakka karena kelihatan kayak bocah banget. Ehh, tapi sekarang gak tau kenapa jadi jauh lebih bedaaaa. Cakka jadi ngegemesiiiiin banget.

            Agni berdeham pelan. Ia hentikkan langkahnya dan langsung menghadapan Cakka. Ify dan Ray pun mendadak berhenti.

            “Lo udah gede. Udag 19 tahun, dan sekarang waktunya lo mandiri. Sekarang, tanpa gue lo pasti bisa dapet temen dan cewek-cewek cantik yang dulu lo idam-idamkan. Lo gak bosen apa jalan di belakang gue terus, huh?” ucap Agni tenang. Raut wajah Cakka mendadak keruh. Ia mulai menunduk. Kebiasaan Cakka kalau Agni  sudah mulai marah pasti dia gak berani natap muka cewek itu.

            “Lihat gue, kalau gue lagi ngomong,” suara Agni terdengar tegas. Dan perlahan Cakka pun kembali mengangkat wajahnya. “Sekarang lo harus bisa ngapa-ngapain sendiri. Lo cowok, dan umur lo udah 19 tahun. Kita gak selamanya sama-sama kecuali ada suatu keajaiban yang buat lo sama gue saling jatuh cinta terus nikah,”

            Ify dan Ray melongo selama beberapa detik mendengar ucapan Agni barusan, detik kemudian keduanya pun terkikik kecil. Sementara Cakka, wajahnya kini sudah terlihat semakin lesu saja.

            “Ngapain pada kumpul di sini?” suara bass Alvin mengagetkan Ray, Ify, Cakka dan juga Agni. keempatnya langsung menoleh ke arah suara dan menatap sosok Alvin kesal.

            “Cakka?” gadis yang berdiri di samping Alvin –yang tengah merangkul mesra lengan cowok itu– menatap Cakka ragu. Sedikit kaget melihat perubahan pada diri temannya itu.

            “Semalam si Agni make over dia habis-habisan,” bisik Ify. Nova yang masih tampak terkejut itu pun hanya mengangguk-angguk kecil.

            Agni mulai risih, kini tempat ia dan teman-temannya berdiri sudah banyak pasang mata yang mengamati mereka, dan Agni tau itu pasti karena Cakka. tanpa berbicara apa-apa lagi, dengan langkah pasti Agni pun langsung saja bergegas menuju kelasnya.

            “Ag! Agni!” teriak Cakka dan kembali mengejar langkah Agni.

            “Dandanannya boleh oke. tapi sikapnya sama aja,” gumam Ray sambil geleng-geleng kepala dan di angguk setujui yang lainnya. Kemudian keempatnya pun tertawa bersamaan.

            ---
“Hai Cakka!” Cakka mengalihkan perhatiannya dari beberapa modul di atas mejanya dan menatap seorang gadis cantik yang berdiri di hadapannya dengan dahi mengerut. “Nanti malam, kamu ada acara gak?” tanya gadis itu sambil memainkan rambutnya dan kini sudah berdiri tepat di samping Cakka. Cakka menggeleng kaku. Sumpah demi tuhan baru kali ini nih, ada cewek kayak cacing kepanasan kalau deket-deket dia.

            “Asiiiik. Jalan sama aku yuk?” ajak cewek itu antusias.

            “Kemana?” tanya Cakka lagi. pandangannya masih belum beralih dari modul-modulnya.

            “Kemana aja deh. Yang penting sama kamu,” ucap cewek itu lagi. Cakka menyeringai tipis, kemudian mengangguk.

            “Oke,”

            “Yeees,” gadis itu berseru senang dan dengan gerakkan cepat mengecup pipi kanan Cakka. “Jam 7. Aku jemput kamu ya?” ucap cewek itu dan langsung saja berlari keluar dari kelas Cakka.

            Cakka melirik ke banggu paling sudut di sebelah kanannya, wajahnya mendadak lesu saat mendapati Agni tengah menatapnya dengan ekspresi yang sulit di artikan.

            “Mau kemana, Ag?” tanya Nova saat Agni tiba-tiba saja bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke arah pintu. Cakka hanya mampu menatap punggung Agni yang semakin menjauh lekat. Biasanya kalau Agni mau kemana-mana, pasti dia noleh dan nawari Cakka buat ikut.

            “Huhh.” Cakka menghela napas berat dan kembali larut dengan tugasnya.

            ---

“Mau kemana malam gini, Ag?” Alvin menyembulkan kepalanya ke dalam kamar Agni, saat mendapati saudara kembarnya itu tengah mematut diri di depan cermin.

            “Jalan,” jawab Agni singkat sambil membenarkan rok mininya.

            “Sama siapa?” Alvin melangkah masuk ke dalam kamar Agni dan duduk di tepi ranjang saudaranya itu.

            “Nova sama Ify. emang mau jalan sama siapa lagi gue,” jawab Agni dan dengan sigap menyambar tas tangannya di atas meja belajar.

            “Huh? Kok Nova gak ada bilang gue mau jalan sama lo?” tanya Alvin yang kini tampak melotot garang.

            “Apaan sih lo? Eh, ini itu acaranya cewek. Gue sengaja nyuruh dia buat gak bilang sama lo atau Ray. Lo berdua kalau ikut mah bikin gue kayak obatnya nyamuk,” terang Agni dan menepis kasar cekalan Alvin beberapa saat lalu. Alvin berdeham pelan, sambil menggaruk telinganya yang tak gatal.

            “Jangan sampai lo ngajak cewek gue mabuk ya?” ancam Alvin. Agni hanya berdehem malas dan segera saja melangkah cepat menuju mobilnya.

            ---

“Kok tumben gak bawa Cakka, Ni?” tanya Nova sambil meneguk cola-colanya dan memandang sekelilingnya lekat.

            “Ngapain? Lo kata gue emaknya apa?” ucap Agni ketus dan dengan kasar meneguk minumannya. Ify yang duduk di samping Agni terkikik pelan mendengar nada bicara Agni barusan.

            “Agni, Agni. lo itu sebenarnya kenapa sih? Seminggu ini gue lihatnya lo bete banget. Lo kesel ya, karena si Cakka sekarang banyak yang nempelin?” tanya Ify menatap Agni dengan mata menyipit. Nyaris saja ia tersedat minumannya dan menatap Ify dengan mata mendelik.

            “Gue sama Cakka itu udah sahabatan dari jamannya gue masih ngemut jempol. Gue udah bosenlah sama dia,” ucap Agni gak nyambung. Ify dan Nova tampak saling berpandangan dan keduanya pun tertawa pelan.

            ---
“Ag, itu kayak Cakka deh?” seru Nova menatap lekat ke arah lantai dansa. Agni menajamkan pengelihatannya dan menatap ke arah telunjuk Nova dengan mata menyipit.

            “Iyah. Cakka tuh. kok dia bisa jalan sama Shilla sih?” Ify menatap lekat dengan dahi mengerut ke arah lantai dansa dan melirik ke arah Agni sejenak.

            “Kita turun!” ajak Agni dan dengan sigap melepas blezernya, menyisakan kaos lengan pendek ketatnya dan berjalan dengan langkah tegap menuju lantai dansa.

            “Eh? Ag! Aduuuh. Mau ngapain sih itu anak?” Ify berusaha menahan langkah Agni. ia mengacak pelan poni depannya. Ini Agni kalau udah ngedance suka lupa diri. Apa lagi dia dalam keadaan bete –sepertinya- dan itu bisa ngebuat suasana di bawah sana pasti bakalan kacau.

            “Susulin yuk!” Ify menarik lengan Nova dengan sigap dan menyusul Agni.

            ---


Agni menatap geram cowok dan cewek yang saat itu asik berdansa di hadapannya. Ruangan dengan pencahayaan yang minim itu membuat keduanya tak menyadari keberadaan Agni.

            “Cakka mabuk?” bisik Agni menatap Cakka yang tampak berdiri sempoyongan dengan mata membelalak tak percaya. seumur-umur, setiap Agni bawa Cakka ketempat beginian, Cakka gak pernah sedikit pun nyicipin minuman beralkohol. Tapi ini kok….

            Agni menahan napasnya, saat melihat Cakka merengkuh pundak Shilla dan mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu. seketika seluruh tubuh Agni terasa di serang sengatan listrik tegangan tinggi saat detik berikutnya ia melihat Cakka mencium gadis itu dengan gerakkan cepat.

            “Ag!” Ify menepuk pundak Agni, membuat cewek itu tersadar dari keterpangahannya dan dengan sigap ia berlari keluar dari tempatnya berdiri.

            “Agniiii!”

            Cakka mengerjabkan matanya berkali-kali dan menatap dua orang gadis yang berdiri di hadapannya dengan mata menyipit. “Ify? Nova?” tanya Cakka dengan suara melemah. Kedua gadis itu tampak menggeram, menatap Cakka tajam.

            “Gue jamin besok Agni bakal ngebunuh lo,” ucap Ify menunjuk tepat di wajah Cakka kemudian bersama Nova menyusul langkah Agni.

            ---

Brak..

Alvin dan Ray yang kebetulan berada di ruang tivi tepat di lantai dua yang bersebelahan dengan kamar Agni terlonjak kaget saat mendengar suara bantingan pintu cukup keras. keduanya saling menatap satu sama lain dan dengan cepat Alvin berlari mendekati pintu kamar Agni.

            “Lo kenapa, Ag?” tanya Alvin khawatir. Belum pernah ia melihat adiknya itu menangis dan marah sampai seperti ini.

            “Ag!” Ray berusaha membantu. Tapi tak terdengar suara apa pun dari balik pintu.

            “Kenapa sih?” tanya Ray. Alvin tampak mengerutkan dahinya dan bergidik kecil.

            ---
Agni melangkah keluar kamarnya dengan gontai. Semalaman menangis membuat badannya mendadak lemas. Ia juga belum mengganti pakaianya dan langsung saja berjalan menuju dapur.

            “Alvin mana Mbok?” tanya Agni saat ia bertemu Mbok Imah di dapur.

            “Mas Alvin udah berangkat ke kampus sejam lalu, Mbak. katanya Mas Alvin, Mbak hari ini gak usah ke kampus dulu. Istirahat aja di rumah, Mas Alvin nanti yang kasih surat izinnya,” terang Mbok Min. Agni pun hanya manggut-manggut mengerti sambil meneguk air mineral dingin yang baru saja ia ambil dari kulkas.

            “Okey,” ucap Agni dan kembali menuju kamarnya. namun, baru saja ia menapaki kakinya di anak tangga pertama suara bel menghentikan langkahnya. Dengan langkah malas Agni pun berjalan ke arah pintu, sebelumnya ia menatap sejenak pantulan dirinya di cermin di dekat ruang tengah. Agni sedikit tercengang. Dandananya terlaru fulgar kalau seandainya yang datang itu bukan kerabat. Tapi, kalau pagi-pagi begini, siapa sih orang kurang kerjaan yang bakal bertandang ke rumahnya kalau bukan saudara atau sahabat dekatanya.

            Tanpa ragu Agni membuka lebar pintu rumahnya, dan seketika mata boneka Agni tampak melotot lebar saat mendapati Cakka berdiri dengan wajah kusamnya menatap Agni dengan tatapan yang sulit di artikan. Mendadak Agni merasakan seluruh tubuhnya terasa dingin. Cakka bernar-benar beda banget kali ini. tatapan matanya juga jadi buat Agni ngeri.

            “Lo ngapain disini?” tanya Agni yang masih berusaha terlihat cool. Ia memberanikan diri menatap mata Cakka. hal yang seharusnya memang berani ia lakukan.

            “Aku pengen ngomong sama kamu,” ucap Cakka tegas, dan kali ini cowok itu tak sedikit pun menunduk. Ia justrus membalas tatapan mata Agni.

            “Eghem,” Agni berdehem pelan dan dengan langkah –yang di usahakan– tenang berjalan masuk ke dalam rumah. Cakka mengikuti. “Oke. lo duduk dulu deh. Gue mau mandi. Habis itu baru lo ngomong,” ucap Agni dingin dan hendak melangkah menuju tangga namun dengan sigap Cakka meraih lengan Agni. agni terkesiap. sentuhan Cakka mendadak membuatnya nyaris tak bernapas.

            “Gue Cuma butuh mandi sekarang. Kalau nanti gue kelamaan, lo bisa susulin di kamar. Kalau lo masih ngotot pengen ngobrol sekarang, gue gak bisa ladenin lo dengan badan lengket plus bau begini,” jelas Agni lagi. perlahan Cakka pun melepaskan cengkramannya dan membiarkan Agni melangkah menuju kamarnya.

            “Kamu kenapa sih, Ag?” gumam Cakka selepas kepergian Agni.

            ---
Agni merapatkan punggungnya di balik pintu sambil mengerjabkan matanya. Gak tau kenapa rasanya Agni pengen banget nangis. Kejadian malam tadi kini kembali berputar-putar di kepala Agni membuatnya mendadak sesak.

            “Apaan sih lo, Ag? Bukannya ini tujuan lo? Bukannya lo yang mau Cakka dapetin cewek yang sesuai keinginannya?” Agni mendumel pada dirinya sendiri dan kini dengan gontai melangkah ke tempat tidurnya.

            “Kenapa lo harus nangis? lo gak mungkinkan, suka, apa lagi jatuh cinta sama sahabat lo sendiri? Huhhhh,” dengan kasar Agni menghapus airmata yang terus saja mengalir di pipinya.


            ---

Cakka melirik tangan kirinya berkali-kali. 30 menit. Ini itu sudah terlalu lama untuk Cakka menunggu. Cakka menghela napas keras. sumpah demi tuhan dia gugup setengah mata saat menapaki kakinya di setiap pijakkan anak tangga, namun mengingat ia harus berbicara serius dengan Agni akhirnya Cakka pun memberanikan diri untuk membuka perlahan pintu kamar Agni.

            Cakka melonggokkan kepalanya dan mengamati setiap sudut ruangan bernuansa ungu itu, dan matanya langsung tertuju pada tempat tidur. Cakka tertawa pelan sambil menggeleng kecil saat melihat Agni tertidur dengan kaki menjulur ke bawah di tepi ranjangnya.

            Cakka menghampiri Agni, dan pelan-pelan berjongkok di hadapan gadis manis itu. Seketika raut wajah Cakka tampak berubah saat melihat garis-garis air masih terlihat jelas di wajah Agni. ia menggerakkan jemarinya dan dengan lembut menghapus sisa airmata Agni yang belum mengering.

            Cakka menatap lekat wajah Agni yang terlihat begitu letih. Demi tuhan Cakka belum pernah melihat Agni terlihat begini rapuh. Setiap saat bersama dengannya, Agni selalu saja terlihat kuat dan begitu tegar. Dan Cakka baru sadar, kalau Agni sama dengan gadis lainnya. Lemah. Dan bila ia merasa sakit, pasti akan menangis.

            Cakka jadi merasa malu sama dirinya sendiri. Dari dulu, selalu dia yang berlindung di belakang Agni tanpa mengerti perasaan cewek manis ini. dan dari dulu, Cakka juga selalu meminta bantuan Agni tanpa menanyakan pada Agni apakah ia juga memerlukan bantuannya. Cakka mulai merasa dirinya egois. Kenapa ia baru sadar sekarang, kalau sebenarnya Agni juga membutuhkan sandaran.

            Agni perlahan membuka matanya dan menatap wajah Cakka yang sepertinya tengah malamun dengan dahi mengerut. Cakka masih menatap wajah Agni lekat dan sepertinya ia belum menyadari kalau gadis itu sudah terbangun dari tidurnya.

            “Cakka?” suara Agni terdengar pelan. Cakka terkesiap dan buru-buru ia bangkit dari posisi jongkoknya.

            Agni pun perlahan mendudukkan diri di tepi ranjang sambil merenggangkan ototnya yang terasa pegal. Posisi tidurnya benar-benar kurang nyaman tadi.

            “Sorry, gue ketiduran,” ucap Agni berusaha bersikap setenang mungkin.

Cakka berdehem pelan. Ia menggaruk telingannya yang tak  gatal kemudian mendudukkan diri tepat di samping Agni.

“Aku… aku…”

Agni menyipitkan matanya menatap Cakka yang kini mulai tampak menunduk. Agni jadi gemes sendiri sama Cakka ini.

“Lo kenapa?” tanya Agni akhirnya. Dengan sigap Cakka pun menghadap ke arah Agni dan menggenggam erat jemari gadis itu.

“Lo kenapa sih?” Agni berusaha menarik jemarinya dari genggaman Cakka.

“A –aku… sa –sayang sama kamu, Ag,” ucap Cakka terbata.

“Huh?”

“Aku…. Sayang banget sama kamu,” Cakka mengulangi ucapannya dan kali ini terdengar lancar. Agni cengok. Rada bingung juga, namun detik kemudian ia tertawa sambil memegangi perutnya.

“Hahaha. Lo kenapa sih? Konyol banget. Lo mau praktekin cara ngegaet cewek itu langsung sama gue? Ya ampun, Kkaaaa, lo ini lucu banget sih. Sumpah gue gak habis pikir lo sampai kayak gini. Hahaha….”

Cakka gemas sendiri ngelihat Agni yang sepertinya tak menganggapnya serius. Dan tanpa pikir panjang lagi dengan sigap Cakka pun menarik tubuh mungil Agni dan dengan sigap mengecup bibir mungil Agni. Agni terlonjak kaget. matanya membulat lebar, dan kedua tangannya bergerak-gerak pelan hendak menjauhkan Cakka darinya.

Cakka semakin gencar mengecup bibir mungil Agni sampai akhirnya membuat gadis itu menyerah dan membalas juga kecupan Cakka dengan intens.

“Tunggu dulu!” seru Agni kemudian. ia menjauhkan kepalanya dari Cakka dan menatap cowok itu dengan mata menyipit.

“Lo gak sedang mainin gue kan?” tuduh Agni dan dengan sigap ia berdiri dari posisi duduknya. Dahi Cakka tampak mengerut, menatap Agni heran.

“Ma –maksud kamu?”

“Tadi malam, gue ngelihat lo di Zet Kelab. Dan  gue juga ngeliat apa yang lo lakuin sama Shilla di tempat itu. gue tau lo lagi pedekate kan sama cewek itu?” jelas dan tanya Agni langsung sambil menunjuk wajah Cakka.

“Ag, Aku sama sekali gak sadar malam itu. kamu tau, seharian itu aku mikirin kamu terus. Aku bingung kenapa kamu jadi berubah sama aku. Aku kangen sama kamu, Ag. Aku mau kita kayak dulu lagi. aku gak mau kayak gini. Percuma aku berubah kayak gini, tapi kamu justru menjauh dari aku. Aku gak mau itu,” jelas Cakka akhirnya. Agni tampak diam. Di tatapnya kedua manik mata Cakka lekat.

“Maksud lo?”

Cakka perlahan menghampiri Agni. di raihnya satu tangan Agni dan ia rengkuh pipi sebelah kanan gadis itu.

“Aku dari dulu udah jatuh cinta sama kamu, Ag. Tapi aku sadar, aku ini bukan apa-apa buat kamu. aku Cuma Cakka. cowok jelek yang selalu berdiri di belakang kamu. aku… aku selalu cemburu setiap ngeliat kamu di gandeng cowok lain dan aku…. apa pun gak bisa lakuin buat ngerebut kamu dari mereka,” lanjut Cakka. kedua matanya tampak memerah. Agni sedikit bengong mendengar pengakuan Cakka barusan dan detik kemudian ia pun terkikik kecil.

“Lo itu lucu banget sih,” gumam Agni dan menoyor pelan perut Cakka. “Lo tau, dari dulu gue Cuma nunggu satu cowok buat nembak gue, tapi setelah bertahun-tahun gue tunggu, kenapa baru sekarang sih cowok itu berani nembak gue,” ucap Agni yang kini balas menatap manik mata Cakka. Cakka terlihat mengerutkan dahinya, memandang wajah Agni bingung.

“Maksud kamu?”

“Lo ngerti maksud gue,” ucap Agni dan kini melingkarkan tangannya di pinggang Cakka dan menempelkan tubuhnya pada cowok itu. Cakka tersentak kaget. “Dan lo juga ternyata masih belum berani ngedeketin gue,” ucap Agni setelah tak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka. Kini tangan Agni bergerak pelan dan melingkar di leher Cakka.

“Belum ngerti maksud gue?” tanya Agni sembari tersenyum misterius. Cakka masih terlihat bingung dengan alis terangkat. Huhhh. Cakkaaaa, bener-bener bikin Agni gemes setengah mati.

Oh my lord. Apa harus gue ngelakuin itu supaya lo ngerti maksud gue?” Agni menatap Cakka gemas. Ia tak peduli lagi dengan wajah Cakka yang semakin terlihat bingung dan dengan gerakkan cepat langsung saja menyambar bibir Cakka dan merengkuh wajah cowok itu dengan agresif. Cakka melotot. Napasnya terasa putus-putus.

Perlahan Agni menjauhkan wajahnya dari Cakka dan menatap Cakka yang masih terlihat shock sambil tertawa kecil. “Errr. Lo memang kelewatan polos banget sih,” seru Agni dan dengan cepat hendak memutar tubuhnya menuju kamar mandi. Namun dengan sigap Cakka kembali menahannya.

“Jadi… maksud kamu itu…. kamu juga udah lama…. Suka sama… aku,?” tanya Cakka menatap wajah cantik Agni tak percaya. mana mungkin gadis seperfect Agni bisa jatuh cinta dengan cowok sepertinya. “Tapi.. waktu itu aku..”

Agni kembali berbalik dan tersenyum manis ke arah Cakka. “Gue gak pernah mandang lo dari fisik. Gue sayang tulus sama lo. Makanya setiap ada cewek yang nyakiti lo gue gak suka,” jelas Agni. perlahan Cakka pun tersenyum dan dengan pelan menarik Agni kedalam rengkuhannya.

“Aku seneng banget. Kamu beneran sayang sama aku? Kamu… kamu mau jadi pacar aku?” ucap dan tanya Cakka. Agni tertawa pelan dan membalas pelukan Cakka sambil mengangguk pelan.


_FIN_


Kelarrrrr. Hahaha. Baru kelar tadi loh ini, niatnya tadi gue mau les, eeh taunya senseinya gak masuk jadi iseng-iseng gue ngetik ajaaaah. Belum gue edit loh, so sorry yah kalau ancur badaiiiii. :p

@cluvers_agniaza
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment