Sunday, 23 February 2014

(TAK) SEMUANYA AKAN BERAKHIR INDAH

(TAK) SEMUANYA AKAN BERAKHIR INDAH
penulis : ahmad roihan

editor : muhammad putra yuzar

Hidup memang tak semudah yang kita bayangkan, bahkan bisa dikatakan sulit, sangat sulit.Kadang yang kita harapkan belum tentu tercapai.Dan kadang pula yang tidak kita pikirkan itulah yang terjadi.

“Mau kemana kamu?”tanya seorang lelaki yang belum lebih dari umur 40 tahun  kepada anaknya.

“Nongkrong,”jawabnya singkat.Tidak sopan memang, tapi beginilah potret kehidupan anak zaman sekarang.Panggil saja anak itu Ozy.

“Nongkrong saja kerjaanmu, mau jadi apa kamu?  Cari kerja sana!”Iel, ayahnya Ozy terlihat begitu kesal kepada anaknya, karena semenjak lulus SMA dia tidak mau melanjutkan sekolah ataupun mencari kerja.
Ozy tidak menghiraukan kata-kata ayahnya. Ia malah melanjutkan langkahnya keluar dari rumah.

“Dasar anak kurang ajar, ayahnya ngomong bukanya di dengerin malah maen nylonong saja, awas kamu sampai pulang,” bentak Iel.Dibantingnyakoran yg ia baca ke atas meja. Ia terlihat sangat marah.
Terlihat perempuan paruh baya keluar dari kamar. Ia kemudian menenangkan suaminya.

***

“Woy bro.Apa kabar?”tanya seorang pemuda, yg bisa di bilang agak brandal. Penampilannya terlihat acak-acakan khas anak punk.

“Kabar baik,”jawab Ozy tanpa ekspresi. Sedari tadi dia sudah menunggu kedatangan temannya itu.

”Cakka kemana,Io? Gak ikut? Biasanya nggak pernah telat,”tanyanya menyelidik

“Katanya cari kerja.Ke Medan” jawab Rio, pemudi bergaya punk tadi.

“Cari kerja? Mau jadi apa dia? Angkat barang aja gak becus!”Ozy tertawa renyah.”Eh, kok tapi buru-buru amat ya? Gak pamitan sama gua lagi, gua ini temannya pa bukan sih?”

“Tadi dia udah pamitan sama gua.Katanya buru-buru, jadi gak sempet kerumah elo.Dia nitip salam sama elo,”jawab Rio sambil sesekali menghirup rokoknya

“Jiah? Emang dia berangkatnya jam berapa?”tanyaOzy lagi. Tangannya merebut rokok yg di pegang rio, kemudian menghirupnya

“Buset! Rese lo! ” Rio kesal sementara Ozy menyeringai. ”Sejam yang lalu dia berangkat,” jawab Rio ketus.

“Biasa aja dong. Nah, gua balikin!”kata Ozy sambil menyodorkan rokok yang tadi ia tarik paksa.

Rio tersenyum, dan mulai menghirup rokoknya, “Emang kelihatnya sih buru-buru banget.Dia akhir-akhir ini keliahatan aneh.”

Ozy mengendikan bahu. “hemz terserah dia saja lah”

***

“DARI MANA SAJA KAMU? BERANGKAT PAGI PULANG PAGI LAGI KENAPA GX SEKALIAN GX USAH PULANG!”bentak iel ke ozy yg baru saja pulang

“hemzz,”anak yg ditanya tadi cuma bergumam, kemudian mulai berjalan menuju kamarnya

“woy zy, ayahmu ini lagi bicara, asal nyelonong saja, dasar anak gx punya sopan santun” Iel semakin berang. Tapi Ozy tetap saja berjalan ke kamarnya.

Tak lama kemudian, setelah ozy masuk kamar, terdengar ketukan pintu dan suara salam

‘Tok! Tok! Tok!’

“Assalamualaikum,”

“Waalaikumsalam,”jawab iel pelan, kemudian ia bergegas berjalan ke depan pintu dan menarik gagang pintu. Setelah pintu terbuka, ia terdiam sejenak, mencoba mengenali 3 orang yg berdiri di depan pintu. Ditatapnya satu persatu wajah 3 orang itu.Setelah dirasa kenal iel mulai tersenyum dan menyodorkan tangan untuk berjabat tangan. Kemudian mereka berdua saling merangkul satu sama lain.

”Debo?apa kabar lo? Tau dari mana ini rumah gua?” tanyanya bertubi tubi

“ohhh jadi ozy itu anak kmu iel? Bagus kalau begitu, semua akan berjalan dengan mudah,”kata lelaki yg di panggil debo itu.

“gx nyambung banget jawaban lo deb,”iel mengerutkan dahi, bingung. ”tau dari mana kalau aku punya anak namanya ozy?”tanyanya menyelidik

“hemmmzzz, mgomong2x nggak di suruh masuk dulu nih? Masa iya cerita di depan pintu”kata debo sambil bercanda. kemudian mereka pun tertawa

“ya udah ayo masuk,”ajak iel
Mereka pun mulai mendudukkan diri masing-masing di sofa ruang tamu keluarga iel.

“mah, liat nih siapa yang dateng, panggil ozynya sekalian ya,”panggil iel dari ruang tamu

“ehh ngomong ngomong ini siapa? Belum pernah liat gua?”tanya iel pada debo

“ini? Anak gua donk.Ni kenalin diri kamu,”debo memegang pndak anaknya.

“pagi om, nama saya, agni tri nubuwati, panggil saja agni,”agni menjabat tangan iel, kemudian ia tersenyum

“anak elo cantik juga ya,”goda iel

“hus udah punya istri juga,”kata wanita paruh baya yg baru keluar dari ruang tengah rumah mereka, di belakangnya sudah pasti ada ozy.

“nah ini istriku namanya sivia, dan ini ozynya,”iel memperkenalkan anggota keluarganya
Ozy mengerutkan dahinya, masih bingung, kenapa keluarga agni datang kerumahnya.ozy terus menatap agni mencoba mencari jawaban, tapi agni yg di tatapnya malah menundukkan kepalanya.

“eh ngomong ngomong maksud yg tadi apa? Masih bingung aku deb,”tanya iel setelah sivia dan ozy duduk di sebelahnya.

“huh!”terlihat debo, menghembuskan nafas berat. ”begini ya iel mungkin ini bisa menjadi kabar buruk atau pun kabar baik, menurut pandangan kita masing-masing” debo memulai kata-katanya

“terus?”iel yg penasaran memotong perkataan debo.

“anak kami atau si agni, hamil.Dan aku nya, yg menghamilinya anak elo, ozy”

Cetarrrrrr

Ozy yg mendengar berita langsung melotot, ia sungguh tak percaya dengan perkataaan debo barusan, bagaimana mungkin dia menghamili agni? Agni kan pacar sahabatnya, cakka.
Ozy menatap tajam agni yg sedari tadi menunduk.

“APA! Anak kurang ajar lo, ya! Gua udah capek gedein lo dengan baik-baik tapi lo malah berbuat kayak gini!” gerung Iel,

“Gua ga ada berbuat kayak gitu!” bantah Ozy keras.

“sudah lah zy, kami punya buktinya, kalau kamu yang melakukanya, ”debo pun mengeluarkan sesuatu dari saku jas yang di kenakanyanya, kemudian dia menaruh beberapa foto ke atas meja,
setelah melihat foto foto itu  ozy mulai tak berkutik ia melemas pasrah.

”Ag, kita perlu bicara”kata ozy sambil terus menatap Agni.Saat Agni mengangguk setuju, dia berpaling ke ayahnya.

“Gua gak ada melakukan hal itu,” cetusnya keras. Kemudian, dia dan Agni berjalan masuk ke dalam.
Iel yang sedikit terkejut mendengar bantahan Ozy terakhir teralihkan perhatiannya saat Debo mengajaknya mengobrol lagi.

***
“Apa maksudnya, Ni? Lo tau kan bukan gua yang ngelakuin!”ozy memulai pembicaraan, setelah mereka berada cukup jauh dari ruang tamu.

Agni hanya menunduk.Ia terdiam

“Jawab, Ag. Jawab!”nada bicara ozy mulai meninggi.Ia meletakkan kedua tanyannya di bahu agni
Agni masih menunduk, ia tak berani menatap ozy.

“Maafin gue, Zy,”Agni mulai menitikkan air matanya,”aku gx punya pilihan lain, lo udah tau berita kepergian cakka, kan?Gua takut anak ini lahir tanpa seorang ayah,”

Ozy menghela napas. Sekarang ia paham.

“Jadi itu alasan dia pergi? Karena takut hal ini?” geram Ozy. Agni hanya diam tak menjawab.

“Tapi kenapa harus aku, Ag?” tanya Ozy kali ini dengan suara yang melembut.

“aku minta maaf zy, Cuma elo yg mungkin bisa ngertiin gua zy dan yg nguatin foto foto tadi,”

“Tapi bagaimana bisa? Foto itu palsu, kan?”

Agni mengangguk kecil.

“Gua udah punya pacar, Ag! Gua gak mungkin ninggalin dia.”

“Tapi ayah gua udah percaya dengan foto itu, Zy.Tolong,” Agni mengakhiri kalimatnya dengan lemah.Ozy terdiam.Dia tidak bisa lari dari kenyataan ini. Sekeras apapun dia menjelaskan kepada ayahnya bahwa foto itu palsu tidak akan membuahkan hasil positif.

“Gua rasa ini memang jalan hidup gua.”

“Maafin gua, Zy.”

***

“saya terima nikahnya agni tri nubuwati binti debo dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang seratus ribu di bayar tunai” 

***

7 tahun sudah peristiwa itu berlangsung, namun kejadian itu masih terekam jelas di kepala ozy, dia masih gx percaya akan kejadian yg menimpanya.

“cha bagaimana keadaanmu sekarang di sana,”ozy terlihat melamun di balkon atas kamarnya.

“zy makan malam sudah siap,”agni memanggil suaminya.
Ozy tak menyahut. Ia hanya melangkahkan kakinya ke luar kamar.

“zy sampai kamu akn terus memperlakuin aku seperti ini, sudah 7 tahun kita menikah, tapi kamu belum juga berubah”

Sampai di ruang makan di sana sudah terlihat seorang anak lelaki mungil. Anaknya, atau lebih tepat anak agni.

“Ayah ayo makan,” ajak anak lelaki itu
Ozy tak menyahut, apalagi senyum. Ia hanya menggeser kursi di hadapanya dan mulai mendudukkan dirinya ke kursi. Agni yg sedari tadi berjalan di belakangnya pun juga mendudukkan dirinya di kursi sebelah anaknya. Ia mulai mengambilkan makanan ke piring suaminya. Setelah itu mereka mulai melahap makanan itu.

“Yah, besok di sekolah difa ada pembagian rapor, ayah datang ya,”pinta difa, anaknya dengan nada sedikit takut.
Ozy tak menyahut ia terus melahap makanannya

“Yah...”rengek difa

“BISA DIAM ATAU ENGGA!”ozy berdiri kemudian ia menatap tajam difa.

“belajar sopan, jangn biasakan berbicara saat lagi makan, AKU GX AKAN DATENG BESOK”bentaknya.Ia kemudian meletakkan sendoknya kemudian menggeret kursi kebelakang dan kemudian pergi dari ruangan itu.
Setelah kepergian ozy, difa menghampiri agni, memeluknya dan menangis

“nda, ayah apa ngga sayang sama difa, kok tadi ayah ngebentak difa hiksz”

     agni melepas pelukan difa.

“sssttt!”ia meletakkan jari telunjuknya ke bibir mungil difa.”Difa gx boleh ngomong gitu.Ayah sayang kok sama difa, kan tadi salah difa juga, ayah lagi makan malah di ajak ngobrol. jadi gitu deh”agni mulai mencari alasan
”sekarang tidur ya,”agni mengecup kening anaknya.

“tapi besok yg berangkat siapa? Ayah, kan?”tanya difa

“bunda saja ya? Ayah lagi sibuk kerja.”

“tapi bun?”

“kan sama saja sayang.”

“huh, gx mau pokoknya difa pengennya ayah yang dating,”difa tetap bersikeras ia kemudian menjauh dari agni dan berlari menuju kamarnya. Setelah sampai dikamarnya ia masuk dan membanting pintu ‘BRAAAKK”setelah itu dia menguncinya.
Agni mengejar difa, namun kalah cepat karena difa sudah mengunci pintu

“sayang, bukain donk pintunya, biasanya kan bunda yg datang, kok difa jadi manja gini sih,”agni memohon di depan pintu kamar difa, tanganya mengetuk pintu

“enggak pokoknya nggak mau, difa tetap pengen ayah yang datang,”difa tetap bersikeras. Terdengar suara isak dari dalam kamar.

”Kalau ayah—gak mau ambil rapor Difa—ayah—ayah lebih sayang pekerjaan daripada Difa,” Difa melanjutkan kalimatnya sambil terisak.

“Difa, bunda mohon, bukain pintunya,” Agni terus memohon

“engga! pokoknya engga, sebelum ayah mau datang besok.”

“ya udah. Bunda ke kamar ayah dulu.Tunggu ya, sayang,” Agni pasrah.Kali ini memang dia harus berani memohon kepada suaminya itu.Ia berjalan gontai menuju kamar ozy. Memang semenjak mereka menikah. Ozy dan agni belum pernah satu kamar.
Sampai dikamar yang di tuju, nyali agni menciut. “Demi Difa aku harus berani,” gumamnya meyakinkan diri sendiri.
Agni mulai mengetuk pintu kamar Ozy.
Tak ada yg menyahut.Agni mencoba membuka pintu, yang ternyata tidak dikunci.

“Zy?”Agni menunduk. Ia takut untuk menatap ozy.
“Zy, please untuk kali ini saja kamu turutin permintaan Difa. Difa gak mau bukain pintu kalau gak kamu turutin permintaannya. Aku takut dia kenapa-kenapa, Zy. Dia gak berhenti nangis dari tadi. Aku tahu kamu gak terima dengan kenyataan ini. Tapi aku mohon, Zy. Turuti permintaanya kali ini.”
Terdengar suara dengkuran dari napas Ozy.

“Ya ampun. Dianya tidur,” Agni menghembuskan napas berat. “selamat tidur zy, semoga besok kamu bisa berubah pikiran.”

Saat Agni menutup pintu kamarnya, Ozy membuka matanya.Ia hanya berpura-pura tidur tadi. Ia mulai mempertimbangkan kata-kata Agni. Ada rasa kasihan yang timbul dalam hatinya. Anak itu—Difa, masih terlalu muda untuk mengetahui apa yang sebenarnya. Ia rasa tak salah jika dia membahagiakan anak itu. Tapi anak itulah yang menjadikan semua hal ini.

***

Agni mengetuk pintu kamar Difa lagi.
“Difa sayang,” Agni memanggil dari luar.

“Iya, Bun. Ayah mau kan ambil rapor Difa besok?”jawab Difa dari dalam. Nada suaranya penuh harap.
‘Maafin Bunda karena harus berbohong,’ batin Agni.

“Gimana bun?” tanya Difa lagi.

”Iya, sayang. Ayah mau kok,”ucap Agni lirih

“Hore!” teriaknya senang. Terdengar derap lari dari dalam dan pintu terbuka. Difa memberondong Agni dengan pelukan, sementara Agni menghela napas sambil berdoa dalam hati akan adanya keajaiban di esok hari.

***

Mentari pagi terasa begitu cepat terbit, malam sudah berganti pagi.
Jam menunjukkan pukul 07:00.Ozy sudah berpakaian rapi.Seperti biasanya, ia akan pergi ke kantor.
Ia kemudian keluar dari kamarnya.Setelah beberapa langkah ia keluar,terlihat agni dengan tergesa gesa menghampirinya.
“Aku mohon, Zy. Kamu mau mengikuti permintaan Difa.Difa--” Agni terdiam sejanak, air matanya mengalir dari matanya.“Difa sakit, Zy.Dia mengigau terus, memanggil-manggil nama kamu.”

“Difa manggil-manggil nama aku? apa gak salah? apakah dia manggil Ozy, Ozy, gitu? pasti engga kan? dia pasti pasti manggilnya ‘ayah, ayah’, dan faktanya ayahnya itu bukan aku tapi CAKKA”Ozy memulai.
“Minggir!Aku mau pergi kerja,” Ozy dengan skeptis meninggalkan Agni.

Tapi Agni tak menyerah. Dia menjatuhkan dirinya di depan Ozy, berlutut sambil terus memohon.
“Aku mohon, Zy.Sekali ini saja.Kumohon!”

“Aku tidak akan merubah pikiranku. Kau dan dia. Kalian menghancurkan hidupku!” geramnya, kemudian dengan cepat dan tak terkejar Agni lagi, dia berangkat kerja.Agni lemas.Semakin berlalu waktu, Ozy semakin bersikap kasar dan tidak menerima kenyataannya.

***

Ku coba ungkap tabir ini
Kisah antara kau dan aku
Tak terpisahkan oleh ruang dan waktu
Menyudutkanmu
Tanpa dirimu

Nada dering ponsel ozy berbunyi terlihat di layar dengan tulisan Agni calling
“hemzz ada apa lagi sih? Ganggu orang meeting saja”gumam ozy
“maaf ya pak, saya angkat telfon dulu”ozy berpamitan kepada kliennya
Setelah agak jauh ozy mengangkat telfon itu.

“SUDAH KUBILANG JANGAN GANGGU AKU, AKU LAGI MEETING, TITIK!”setalah berbicara seperti itu, tanpa menunggu agni menjawab perkataanya ozy mematikan telfon dan kemudian ponselnya juga ikut di matikan.
Kemudian ia kembali ke ruang rapat dan meneruskan meeetingnya. Meeting itu sukses. Dengan berseri-seri ia pulang ke rumah. Tapi…
Bendera kuning terpasang jelas di depan rumah,
Ozy yg baru saja pulang dari kantor terlihat begitu kaget. Dari dalam mobil ia melihat agni menagis tersedu sedu.Ozy bersegera keluar dari mobil dan kemudian berlari menghampiri agni

“Siapa yang meninggal, Ag?” nada bicara Ozy berubah di tengah kerumunan tetangga yang ramai berdatangan.Dengan terisak Agni meyerahkan selembar kertas kepada Ozy.
Ozy menarik kertas itu dan membacanya dengan cepat.

Dear ayah
Ayah..
mungkin setelah ayah membaca pesan ini...
difa sudah engga ada.....
difa sudah pergi...
pergi untuk selamanya..
terimakasih atas semuanya yah, walaupun ayah cuek sama difa,
tapi difa yakin, ayah itu sayang sama difa, untuk yg terakhirkalinya difa mohon ayah kabulin permintaan difa, difa pengen yg memandikan, mengkafani, menyolatkan, mengantar ke makan dan yg meguburkan ayah terlibat didalamnya.
Pesan terakhir difa ayah jangan bentak bentak bunda lagi dan ayah harus sayangi bunda,

Terimakasih sebelumnya yah

Dari Difa yang selalu menyayangimu

“Ini—ini semua enggak bener, kan? Ini bohong, kan?” tanya Ozy ketakutan. Rasa bersalah meliputi pikirannya.

“ini semua nyata zy”jawab agni pelan

“tapi kenapa kamu gx ngabarin aku ni?”

“tadi udah tapi kamu putuskan sebelum aku ngomong”
Ozy berlari ke dalam rumah, di sana telah terbujur kaku, Difa anak kecil yg selalu menyanginya, selalu terlihat ceria, namun wajah cerianya sekarang  telah menjadi pucat

“agrrrrhhhhhhh DIFAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

Ozy terbangun dari tidurnya. Napasnya tersengal-sengal, seakan habis berlari sejauh seribu meter. Ia kemudian duduk, menenangkan pikiran. Merasa lebih tenang, dia bangkit dan berjalan keluar dari kamarnya.
Dia menuruni tangga secara perlahan.Matanya tertuju ke pintu kamar yang tepat berada di hadapan tangga.
Ia membuka pintu kamar itu, mengintip sejenak. Difa tertidur pulas dengan selimut yang menutupi separuh badannya. Ada meja kecil di samping tempat tidurnya.Dan di meja itu ada sebingkai foto. Ozy perlahan mendekat, dan mendapati bingkai foto itu adalah gambar dirinya.
Ozy terharu. Dia sangat jarang memasuki kamar Difa. Terakhir kali dia masuk ke kamar ini sekitar enam bulan yang lalu, saat Difa memutuskan tidak ingin tidur sekamar dengan bundanya, Agni, dan memutuskan untuk belajar mandiri.

Ozy duduk di kasur Difa.Dia mengusap pelan kepala Difa.Anak itu terbangun, menyadari kehadiran orang lain di kamarnya. Dan dia agak terlonjak saat menyadari bahwa orang itu adalah ayahnya.

“Ayah?” katanya tak percaya. Dia mengucek matanya.

“iya sayang, maaf ya, ayah ganggu tidur kamu”ucap ozy lembut

“nggak papa kok yah, difa malah seneng ayah mau kesini.Oh iya ayah besok jadikan ke sekolah difa?”anak itu atau difa tersenyum bahagia

“iya sayang ayah pasti datang, sekarang kamu tidur lagi ya, sudah malam” Ozy lagi lagi mengusap kening difa

”Ayah boleh tidur di sini?”tanya ozy sedikit ragu

“boleh donk yah,difa seneng deh ayah mau tidur sama difa, sini yah”difa kemudian bergeser, memberikan tempat untuk ayahnya.

“makasih sayang”ozypun berbaring di sebelah difa, difa yg terlihat begitu senang langsung memeluk lengan ozy, sedangkan ozy hanya tersenyum dan mengacak rambut difa. Tak lama kemudian mereka berdua pun terlelap.

***

Mentari pagi telah tersenym ceria menampakkan dirinya tanpa tertutup awan.Terlihat seorang wanita muda sedang sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk keluarganya. Wanita ini terlihat ceria. Seperti tak ada yg membebani pikiranya. Setelah semuanya siap. Dia pun bergegas membangunkan putranya untuk mandi dan kemdian sarapan. Ia berjalan dengan santai menuju kamar anaknya. Setelah sampai di depan pintu di pun membukanya dan kemudian “Difa sa..”kata agni terpotong ketika ia melihat ozy tidur di samping difa

“shuuut,”ozy meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, ” biar aku saja nanti yg bangunin difa,”kata ozy agak sedikit berbisik
Agni hanya mengangguk, kemudian ia berbalik dan meninggalkan kamar difa, ia masih tak percaya dengan apa yg dia liat tadi. “apa aku tadi salah liat ya?”
Agni mulai ragu dengan penglihatanya”aissh tapi kayaknya gx salah deh, tapi apa aku mimpi?”
agni mencoba menampar pelan pipinya
”aduuhhhh, sakit,, berarti aku gx mimpi donk, terima kasih ya Allah engkau terlah menyadarkan suamiku”agni tak henti hentinya untuk bersyukur. Mungkin setelah ini hari-harinya akan terlihat cerah
Setelah kepergian agni, ozy mulai membangunkan anaknya. Ia tersenyum ketika melihat wajah lucu difa yg lagi tertidur”maaf ya sayang, selama ini ayah sia-siain kamu,”ucap ozy lirih. tangannya mengusap dahi difa kemudian mengecup keningnya.
“sayang, ayo bangun sudah pagi”ozy melepaskan pelan tangan difa dari lengannya kemudian ia mengguncangkan pelan tubuh mungil anaknya itu.

“bentar lagi ya yah, masih pengen sama ayah”difa menjawab dengan malasnya. Difa memang mengingin kan saat saat seperti ini, bahkan sangat menginginkanya. Makanya dia hari ini terlihat begitu manja.

“satu menit ya?”tawar ozy

“kurang lama ayah”difa masih saja menutup matanya, namun ia masih sanggup menawar.

“55 detik”kata ozy sambil tersenyum, ia terlihat gemas dengan wajah lucu difa

“yah kok malah berkurang sih yah”2 menit deh”difa mulai menawar lagi

“50 detik”

“hemzz oke oke difa setuju satu menit”ucap difa terlihat ia sedikit mayun, walaupun dia masih tertidur

“waktu habis, ayo bangun sayang”ozy duduk kemudian mencoba menarik difa untuk bangun

“yah ayah, gx asik deh, belum ada satu menit juga”sekarang mata difa sudah sedikit terbuka, kemudian dia
mengucek pelan matanya dengan tangan.

“haha, difa kok jadi manja sih, ntar lok ayah terat ngantor gimana?”tawa ozy tanganya di gerakkan untuk mengacak pelan rambut difa”ayo cepat mandi”

“huh, ngantor terus yg dipikirin, kataya mau ke sekolah difa”difa terlihat cemberut

“iya nanti ayah pasti ke sekolah difa, tapikan selesain kerjaan di kantor dulu, nah kalau gx cepet cepet natnti gx selesai lho kerjaanya”terang ozy”apa mau nanti ayah gx jadi dateng?”lanjut ozy sesekali ia menggoda anaknya

“eh.. ya nggak mau donk yah”setelah mendengar kata nggak jadi, difa seketika langsung membuka matanya.

“makanya cepet sana mandi, semakin cepat, natikan kerjaanya semakin cepat selesai juga, oh iya nanti jam dua belaskan ke sekolah difanya”lagi lagi ozy menggoda difa

“bukan ayah,  jam 10 tau”difa makin cemberut

“haha, adek lucu deh kalau cemberut gitu, iya ayah inget kok, jam sepuluh”ozy tertawa melihat difa cemberut

“awas jangan sampai telat”ucap difa kemudian segera berdiri kemudian mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi

“iya iya, ayah janji gx akan terlat
“kalau telat awas aja kena hukuman dari difa”difa mengeluarkan kepalanya dari pintu kamar mandi

“iya sayang, ayah ke kamar dulu, mau madi juga”ozy pun berdiri dan kemudian berjalan ke kamarnya.
Setelah beberapa langkah ia di hadang oleh agni

“zy makasih kamu sudah mau datang ke sekolah difa”ucap agni lirih, ia tak berani menatap mata ozy, entah mendapatkan keberanian dari mana,ia kemudian mendekat dan mengecup pelan pipi ozy,

“sudah gx usah berlebihan, akukan ayahnya jadi ini kewajibanku”ozy tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.


***

“sayang kok madinya lama banget sih?”teriak agni dari ruang makan karena anaknya belum juga keluar kamar.

“iya bun, ini juga sudah mau keluar kok”jawab difa yg kemudian keluar dari kamarnya terus berjalan ke meja makan
Tak lama setelah difa keluar, dari belakang sudah di susul ozy, yg sudah siap dengan pakaian kantornya.
Mereka berdua pun duduk di kursi masing masing dan kemdian sarapan pagi. Ruang makan terrasa begitu sunyi, karena tak satupun berbicara. mungkin masih takut kejadian semalam terulang lagi.
Setelah selesai makan ozypun angkat bicara “Difa hari ini mau di antar Bunda atau Ayah?”tanya ozy ke difa yg juga sudah selesai dengan makanannya.

“mendingan sama bunda aja deh yah, ayahkan kantornya berlawanan dengan sekolah difa”tawar agni,

“gx papa, kalau difanya mau di antar kenapa engga? Lagian juga masih pagi”ozy tersenyum”gimana dif?”tanya ozy lagi

“sama ayah aja deh”difa pun berpamitan kepada bundanya”bun difa berangkat dulu ya”
Difa meraih tangan agni kemudian mencium punggung tangannya.

“ayah ayo berangkat”ajak difa setelah selesai berpamitan
Ozy hanya tersenyum, kemudian mereka berdua berjalan keluar rumah dan menuju mobil

“yah ntr beneran lho jangan lupa”kata difa setelah mereka yg mereka berdua naiki berjalan.

“iya iya sayang, percaya deh sama ayah, ayah gx akan lupa”ozy menjawab dengan santainya, sesekali dia melihat difa, namun kemudian fokus lagi ke jalan

“janji?”difa menyodorkan jari kelingkingnya

“iya sayang janji”ozy mengaitkan jari kelingking difa dengan jari kelingkingnya.

“makasih ayah...”difa tersenyum

“iya sayang, emzzz sebagai bonus... nati kalau anak ayah ini, dapet peringkat 3 besar ayah akan beri satu permintaan deh”sesekali tangan ozy mengacak pelan rambut difa

“yg bener yah? Permintaannya apa ya?”difa mencoba meyakinkan pendengaranya

“iya sayang, permintaannya apa aja deh, yg penting ayah masih bisa turutin ”

“hahay asiiiikk, tapi gx harus peringkat pertama kan yah?”difa terlihat sangat bahagia

“iya sayang boleh 2 boleh juga tiga, emangnya kenapa? Gx yakin bisa dapet peringkat 1?”tanya ozy heran

“bukanya gitu yah, tapi peringkat satu selama tiga semestes ini di raih gilang, sahabat aku”

“wah hebat donk si Gilang dapet peringkat satu terus, kok anak ayah engga sih?”

“tapikan udah lumayan yah dapet peringkat dua, dia emang hebat yah, tapi di balik kehebatanya itu kasian juga dia yah”ucap difa, raut wajahnya berubah menjadi sedih

“iya anak ayah juga hebat kok, kasian gimana, sayang?”tanya ozy, ia mengerutkan keningnya

“ya kasian, dari kecil dia sudah di tinggal ayahnya”

“ayahnya meninggal?”

“enggak yah, kata gilang sih, ayahnya dulu difintah, terus di suruh nikah deh sama orang yg ngefitnah itu, nah otomatis ibunya di tinggalin deh, kasian banget yah, tapi dia gx pernah terlihat sedih lho, kyaknya dia tuh senang terus”difa bercerita dengan seriusnya

“wihh si gilang tegar ya, kamu hebat deh punya sahabat seperti dia”

Difa pun tersenyum
Tak terasa mereka sudah sampai di sekolah
Difa mengecup punggung tangan ozy, kemudian dia berpamitan
“ayah jangan lupa jam sepuluh ya..”difa sekali lagi mengingatkan ayahnya

“iya sayang sip. Ayah ke kantor dulu ya, dadaa”

***

“pagi lang”sapa difa ke gilang sahabatnya yg lagi duduk di bangku taman

“pagi juga dif, tadi sama siapa?”tanya gilang, ia sedikit bergeser agar difa bisa duduk di sebelahnya

“sama ayah aku”difa menjawab sambil tersenyum

“kamu udah baikan sama ayah kamu?”tanya gilang ia terlihat begitu penasaran

“iya donk, bahkan tadi malem aku tidur satu kama sama ayah”difa lagi lagi tersenyum

“wah selamat ya, akhirnya kamu dan ayahmu bisa baikan juga, aku ikut seneng deh”gilang ikut tersenyum

“yg lebih menggembirakan lagi, nati ayah yg ngambil raporku”

“wihhh, beruntung bnget kamu dif”

“ya gitu deh.. pokoknya hari ini aku seneng banget... sebagai merayakanya aku teraktir kamu deh ke kantin, kamu boleh makan apa aja, yg penting jangan melewati 50 ribu, hehehe”

“wah enak nih, ayo ke kantin”gilang pun berdiri
Kemudian mereka berdua berjalan menuju kantin.
Jam sudah menunjukan pukul sembilan lebih tiga puluh menit
Satu per satu wali murid mulai berdatangan. Tak terkecuali ayah difa. Kali ini dia benar benar menepati janjinya, ia bahkan tidak telat.

“ayah”panggil ketika melihat ayahnya yg baru saja turun dari mobil

“hai, sayang”ozy mendekati difa”emzzz... ini pasti gilang”tebak ozy kepada seseorang yg sedang duduk disamping difa.

“iya om kenalin saya gilang”gilangpun berdiri kemudian dia menjabat tangan ozy

“yah mendingan duduk dulu deh disini, sambil nunggu ibunya gilang datang, terus kita sama sma masuk”ajak difa, kemudian mereka bertiga duduk.

“hemz ok deh”
Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang namun ibunyya gilang belum juga datang

“lang ibu mungkin ibu kamu ada pasien jadi beliau gx jadi datang”ucap difa sesekali dia melihat jamnya”udah jam sepuluh lewat, mendingan kita masuk”ajak difa

“aku telfon ibuku dulu”gilang pun mengambil ponselnya, kemudian ia mengetik nomor seseorang dan kemudian menekan tombol panggil. Tak seberapa lama telfon itu di angkat, kemudian setelah mereka berbicara beberapa kata, telfon itu di tutup

“gimana lang, apa kata ibumu?”tanya difa

“bener katamu dif, dia lagi ada pasien jadi kemungkinan dia datang telat”kata gilang yg masih saja berusaha menampakkan senyumnya

“ya udah ayo masuk”
Mereka bertiga pun masuk ruang kelas. Di sana sudah berkumpul beberapa wali murit. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya, yg merupakan wali kelas , kelas 2 masuk.

“assalamualaikum wr wb”ucap guru itu membukakan sambutanya


***

Seorang wanita muda yg cantik terlihat tergesa gesa.Berjalan menuju ruang kelas 2. Namun setelah sampai di depan rungan itu, dia malah berhenti dan tak melanjutkan langkahnya.

“dekh, ozy, kenapa dia disini?” “apa aku harus masuk dan ketemu dia?” “atau aku pulang dan ngecewain anakku lagi?” agrrhh ya Allah berilah aku petujuk” wanita itu kemudian memutuskan untuk berbalik arah dan kembali kedalam mobilnya “maaf sayang mama gx masuk kelas, mama belum sanggup ketemu dia” wanita itupun pergi meninggalkan sekolah

***

“langsung saja kami bacakan, mulai dari peringkat ke tiga”

“peringkat tiga dengan jumlah nilai 880 di raih oleh ..... salma....”tepuk tangan pun memeriahkan suasana ruang kelas

“peringkat ke dua dengan jumlah nilai 909 di raih oleh......
1...
2..
3..
Difa adriansyah... selamat buat difa”tepuk tangan pun lagi lagi memeriahkan ruang kelas

“yesss ayah difa dapet peringkat dua, ingat satu permintaan”difa meledek ayahnya
Ozy hanya tersenyum bahagia.

“dan ini lah yg di tuggu tunggu.... untuk peringkat pertama dengan jumlah nilai 912  lagi lagi di raihh oleh Gilang adriansyahh”tepuk tanganpun bergemuruh memeriahkan ruang kelas 2.

“selamat gilang lagi lagi kamu dapat peringkat pertama”difa memberikan ucapan selamat ke gilang

“makasih dif, selamat juga, kamu masih tetap bertahan di peringkat dua.”ucap gilang kemudian mereka pun ber rangkulan, saling memberi semangat

“kok kamu malah sedih si, semangat donk”difa menyemangati gilang ia menepuk pundak gilang pelan

“ibu aku kayaknya gx jdi dateng yg, “terus yg ngambil raporku siapa?”tanya gilang ia terlihat begitu sedih

“biar om saja yg ngambil”tawar ozy

“untuk wali  murid dari Gilang, Difa,dan Salma, Silahkan maju ke depan untuk mengambil rapor dan penghargaan dari kami”
Ozy pun maju bersama ayah salma
Semua yg hadir menjadi bergemuruh karena yg maju Cuma dua orang

“ini yg ayahnya gilang mana? dan ayah Difa yg mana?”tanya ibu guru

“ohh.... saya ayah dari mereka DIFA dan GILANG”jawab ozy sambil tersenyum

“wah selamat ya pak... keluarga adriansyah memang hebat hebat”
Ozy pun menerima rapor dan pila penghargaan yg di berikan guru
Suasana ruanganpun semakin meria, karena ozy menerima penghargaan selama dua kali.Yaitu milik gilang dan ozy. Mereka yg berada di dalam ruangan terkagum kagum, dengan keluarga adriansyah..
Setelah pembagian selesai, Ozy kembali ke tempat duduknya.

“selamat ya sayang”ozy mengecup kening difa kemudian memberikan rapor dan penghargaan itu ke difa

“selamat juga buat kamu gilang, maaf ya tadi om ngaku ngaku jadi ayah kamu”ozy menjabat tangan gilang dn kemudian menyerahkan rapor dan penghargaan tadi.

“iya om gx papa, gilang juga bertrima kasih sama om karena sudah mau ngambilin rapor gilang”ucap gilang, tanganya menerima jabat tangan ozy
Setelah pembagian rapor selesai difa mulai menagih janji ayahnya

“yah jadikan satu permintaan?”tagih difa

“haha, iya iya sayang, mau minta apa nih dari ayah”

“kita jalan jalan yuk, belum pernah deh ayah ngajak difa jalan jalan”

“hemzz oke deh, ayok”

“yah gilang di ajak ya?”

“iya terserah kamu deh”

“gilang ikut aku yok, kita jalan jalan”

“emzzzz, oke deh tapi aku telfon ibu aku dulu”

“siipp”

Mereka bertigapun tersenyum kemudian melangkahkan kakinya menuju mobil

“gimana lang, ibu kamu ngebolehinkan?”tanya difa

“iya boleh tapi pulangnya jangan sore sore”

“wah sipp, deh aku tadi juga udah telfon bundaku jg gx boleh pulang sore sore kok tenang aja”
Mereka bertiga pun melesat menuju dufan
Sebelum bermain mereka makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran. Setelah selesai makan. Mereka mulai mencoba wahana yg ada dari wahana satu ke wahana yang lain. Mereka bertiga terlihat sangat berseng senang.

“uhh yah cape banget nih, beliin ice cream donk”pinta difa

“ok sayang, tunggu sebentar ya, oh iya gilang mau juga?”

“boleh deh om, haus juga nih”

“yah jangan lama lama haus banget nih”

“iya sayang sip deh”

Difa pun tersenym, kemudian dia dan gilang duduk di kursi bawah pohon.
Tak berapa lama kemudian ozy kembali dengan tiga buah ice cream

“ini buat difa, ini buat gilang, dan ini buat ayah”ozy membagikan satu persatu ice cream yg ia beli tadi
Mereka pun menikmati es crem itu, difa mendadak jahil, ia oleskan es itu ke muka ayahnya

“ahha, ayah lucu deh, kyak badut”difa ketwa riang

“awas kamu ya, rasakan ini”ozy membalas perlakuan difa ia juga mengolesi es cream ke difa.
Tapi syangnya meleset. Dan hasil kena mukanya gilang karena gilang duduknya di samping difa.
“opss.. sori gilang.. hehe om gx sengaja, emmzz gimana kalau kita serbu difa bareng2x”

“ahah oke om.. satu dua tiga”

“ahaha gx kena gx kena”ledek difa, difa pun beranjak dari duduknya dan lari

“awas kamu ya”ozy dan gilang pun mengejar difa
Karena dua lawan satu jadi difa kali, wajah imutnya kini tambah lucu karena belepotan es cream.

“kalian curang ah.. masa dua lawan satu.. ya difa kalah donk”difa terlihat cemberut, ia memayunkan bibirnya

“ahaha, kamu itu lucu deh, kan tadi difa yg mulai duluan”

“hehe iya juga sihh”

Setelah merasa capek bermain mereka bertiga pun membersihkan wajah masih masing di toilet. Kemudian mereka mencoba mencoba wahana baru di dufan.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.00, mereka masih mencoba wahana baru. Difa dan gilang terlalu asyik melihatnya.
“difa pulang yuk, ntar kamu di cariin bunda kamu lho?”ajak ozy

“bentar lagi yah”pinta difa

“iya om bentar lagi deh, kalau ini udah selesai baru pulang”tambah gilang
Mereka berdua sangat menikmati wahana ini
30 menit kemudian pertunjukan selesai.Difa dan gilang terlihat begitu kelelahan.
Setelah itu ozy dan difa mengatar gilang pulang.
Setelah gilang sampai rumah mereka pun melanjutkan perjalanan pulang.

“oh iya, ayah lupa, hari inikan ulang tahun pernikahan ayah sama bunda”ucap ozy tanganya menepuk pelan jidatnya

“wahh, buat kejutan yuk yah buat bunda”ajak difa

“emzzz oke oke, kita beli kue dan kado, setuju?”

“setuju”

Mereka pun melesat ke toko koe dan pusat perbelanjaan
Perjalanan untuk pulang kerumah memang tidak terlalu jauh. Namun mungkin karena difa sangat kelelahan ia tertidur.

“sayang ayo bangun, udah sampai nih, katanya mau buat kejutan buat bunda”ozy mencoba membangunkan difa, sebenarnya dia tidak tega membangunkanya, namun karena ada rencana kejutan maka dia membangunkan difa

“huaaaam… udah sampai ya yah?”difa menguap kemudian mengucek matanya

“iya udah sampai ayo turun”

Mereka berdua pun turun dan kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu.

“sudah siap sayang?”

“sipp”difa mengacungkan jempolnya

“satu, dua, tiga...”pintu pun dibuka dan “tara... keju...... brakkkk”seketika kue dan kado yg dibawa ozy dan difa, terjatuh di lantai. Ia sungguh tak percaya dengan apa yg ia lihat. Padahal baru tadi pagi ia mencoba baik ke istrinya. Tapi setelah ia melihat kejadian ini ia menjadi muak

Dua orang yg sedang berpelukan dengan mesranya.kaget dan kemudian melepaskan diri mereka masing masih

“KITA CERAI”ucap ozy keras kemudian berjalan ke luar rumah

“DIFA BENCI BUNDAAAAAAAAAAAAAAA.......”difa pun berlari mengejar ayahnya


The end (?)
Foto
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment